Pandangan Manusia terhadap Alam
>> Minggu, 22 November 2009
Semakin kritisnya kondisi lingkungan hidup menimbulkan keprihatinan banyak pihak, tak hanya para ilmuwan dan pemerhati lingkungan saja, para filsuf dan agamawan pun ikut memikirkannya. Pembahasan mengerucut pada akar masalah kerusakan lingkungan yaitu manusia.
Usaha manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di satu sisi membawa manusia pada suatu era yang disebut modern, hidup manusia kian mudah, potensi yang ada di alam dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sisi yang lain, kemampuan manusia mengolah alam menempatkan dirinya sebagai pusat alam semesta [antroposentris].
Pandangan manusia terhadap alam berubah. Sebelum manusia mengenal ilmu pengetahuan modern, manusia menganggap bahwa alam memunyai kekuatan. Dikenallah dewa-dewa sebagai wujud kekuatan itu. Ada dewa penguasa langit, penguasa bumi, dewa ke suburan, dewa api, dan sebagainya. Dewa-dewa itu dipuja dengan upacara- upacara dan sesajen agar tak menurunkan murkanya. Setelah kemampuan manusia berkembang dan berhasil menemukan karakter dan hukum-hukum alam, manusia menemukan egonya. Dirinyalah penguasa alam.
Pandangan manusia terhadap alam berubah. Sebelum manusia mengenal ilmu pengetahuan modern, manusia menganggap bahwa alam memunyai kekuatan. Dikenallah dewa-dewa sebagai wujud kekuatan itu. Ada dewa penguasa langit, penguasa bumi, dewa ke suburan, dewa api, dan sebagainya. Dewa-dewa itu dipuja dengan upacara- upacara dan sesajen agar tak menurunkan murkanya. Setelah kemampuan manusia berkembang dan berhasil menemukan karakter dan hukum-hukum alam, manusia menemukan egonya. Dirinyalah penguasa alam.
Segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah miliknya dan digunakan sepenuhnya untuk menunjang hidupnya. Sayangnya, yang muncul kemudian bukanlah kearifan memanfaatkan alam, tapi keserakahan karena nafsu. Sebenarnya, saat itu sudah ada pemikiran untuk melestarikan alam. Salah satunya apa yang diungkapkan Immanuel Kant, filsuf asal Jerman. Dalam pandangan Kant, ada usaha manusia untuk melestarikan alam, namun usaha tersebut bukan dalam bentuk kewajiban. Bagi Kant, usaha melestarikan alam itu hanya dianggap sebagai tindakan yang indah karena bisa menimbulkan kesenangan, tanpa ada embel-embel keharusan untuk melaksanakan. Pandangan manusia yang merasa dirinya sebagai penguasa alam membawanya pada kondisi kepanikan global karena kerusakan lingkungan. Dampak kerusakan lingkungan itu akhirnya membawa manusia pada suatu kesadaran bahwa hidup manusia tak kan lestari tanpa ada usaha melestarikan alam. Muncullah teori-teori tentang kehidupan manusia dan kelestarian alam. Arne Naess, filsuf dari Norwegia dalam konsep yang disebutnya Ecosopy T mengatakan, ada tiga hal yang perlu manusia sadari dalam usahanya menyelamatkan alam dan lingkungan. Pertama, manusia harus memandang alam sebagai bagian dari dirinya sehingga usaha memelihara alam berarti juga memelihara dirinya. Kedua, menyadari bahwa alam memunyai hak untuk ada dan lestari. Manusia tak memiliki wewenang sedikit pun untuk merusaknya. Ketiga, karena dua hal tersebut maka seberapa pun besarnya kebutuhan manusia untuk memanfaatkan alam, manusia harus bijak mengolahnya. Mengambil manfaat dari alam sekaligus mengupayakan kelestariannya.






Tampilkan Daftar Isi !












24 komentar:
ulasan yang bagus sekali...
sekarang kita baru sadar, bahwa kita harus bijak memanfaatkan alam.
ini termasuk mengolah alam beserta isinya untuk kepentingan rakyat tidak? walaupun tetap harus dilakukan bijak.
masalah ini selalu terbentur dgn kepentingan kepentingan para pemimpin dunia yg egois,mereka lebih mementingkan ekonominya dari pada alam...untuk mewujudkan kondisi lingkungan yg baik kayaknya masih terlalu jauh :)
yupe, mikrokosmos bisa mempengaruhi makrokosmos, sob :)
Bagus banget Sob tulisannya. Kita memang harus lebih bijak dan 'bersahabat' lagi dengan alam. Selama ini manusia sudah terlalu merusak alam dengan berbagai alasan...
Salam silaturahim dari Lereng Muria :D
Mohon bantuannya untuk memblokir sebuah blog pengundang kontroversi Mas. Dan Matur Nuwun sebelumnya.
Postingan mantap. Setuju, manusia dan alam harus sinergi. Kearifan kita mmengelola alam ini akan memberi dampak harmony pada kehidupan
ketika nafsu berkuasa akan diri kita akan beringas melebihi binatang... tak seharusnya alam kita hancurkan... namun nafsu telah berkuasa....
-------------------------------------------------
bagus juga neh postingan...
trus berkarya sob........
Nice post sob
Moga bisa jadi motivasi kita untuk lebih memelihara kelestarian alam
mantap friend,teruskan infonya
artikel yg menarik sob.... suskses sllu, slm knl...
keserakahan yang hanya menguntungkan segelintir orang, akibatnya ditanggung semua rakyat, iya nggak bro??
kalo ditempat saya hutannya udah habis, selain ditebangi oleh HPH, sebagian besar oleh tambang batubara. pokoknya sedih deh.
Sayangnya pemerintah lebih mendukung gerakan investor ketimbang lingkungan yang notebene nya justru utk anak cucukita,buktinya aktivis lingkungan hidup justru di tangkap dan di deportasi....mengesankan atau justru memalukan???
Awali semua dari diri kita masing masing bila kita peduli Alam pun akan memberikan kita Lebih....Nice posting.
hm..., mudah2an manusia secepatnya bisa sadar untuk memperbaiki dunia yg sudah tua ini...
salam kenal dari http://haitsam.wordpress.com
semakin maju tehnologi semakin rusak lingkungan...tul gak sob!!!
hmm, shoutmix ku kena banned trus gmn y biar bisa komen lgi?abis kena banned gbs komen ke tmn2 lgi hikz
Membangun nih postnya . lingkungannya... Hukum alam itu absurd bro, tapi kepastiannya melebihi hitung2an matimatika........... apa pun yang kita perbuat utk alam ada hukumnya.. mari buktikan
urlku di banned shoutmix, gmn cara mgatasiny y?
berita siiipp banget sob, banyak bencana terjadi karena ulah dari kita sendiri yang tidak mau memelihara alam dengan baik.
brarti aku harus bsabar slm 2mnggu ini y heheh
Kita ikut prihatin dengan hutan yang gundul. Salah satu dampak dari reformasi yang kebablasen. Perlu langkah yang cepat, tepat dan bijakana untuk memecahkan persoalan tersebut.
Poskan Komentar